Kemarin, tanggal 22 Desember, lini masa media sosial saya penuh dengan postingan Selamat Hari Ibu. Mulai Facebook hingga Whatsapp.

Ada yang memposting foto ibu atau istri mereka, foto berdua dengan sang ibu, hingga sekedar nge-forward postingan tentang hari ibu.

Namun, di saat seluruh dunia (ya minimal, yang ada di media sosial saya) berlomba-lomba memposting kenangan dan quotes tentang kehebatan seorang ibu, saya malah mengingat satu kejadian yang membuat saya ‘dendam’ sama ibu saya.

Menjadi Titisan Dewa Shiva

Jadi ceritanya bermula saat saya masih kecil, lucu, dan polos, plus sangat aktif dan begidhakan. Tingkah polah saya kerap kali memakan korban barang-barang yang ada di rumah.


Ada masanya ketika kemampuan mengetik dengan 10 jari adalah skill paling mbois yang bisa dikuasai manusia.

Bagaimana tidak, mesin ketik yang digunakan ketika itu jauh berbeda dibandingkan keyboard PC atau laptop masa kini. Keras cuy!

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, dengan dua jempol saja, manusia masa kini sudah bisa menyelesaikan lebih banyak. Bahkan, sepertinya nggak ada yang peduli apakah kamu bisa mengetik 10 jari atau 21 jari. Yang penting kerjaanmu selesai dengan baik dan tepat waktu.

Setali dua uang, mampu mengendarai helikopter dan mengoperasikan kamera, mungkin awesome banget sebelum kemunculan drone yang mampu mengerjakan kedua hal itu sekaligus.

Teknologi akan…


Hari ini saya belajar bahwa tidak semua orang mampu dan mau memahami niat baik kita.

By default, mengalami hal ini tentunya menyebalkan. Hampir seharian mood saya berantakan gara-gara kejadian ini.

Namun, saat emosi mereda dan logika sudah mulai bisa bekerja, saya mulai bisa mencoba berpikir dari sudut pandang orang tersebut. Maksud saya, ada banyak kemungkinan bukan, ia berperilaku ‘tidak menyenangkan’ seperti itu.

Siapa tahu, saat itu dia sedang menghadapi masalah yang sangat pelik dan rumit. Walaupun ada pula kemungkinan ia memang tidak terlalu menyukai saya dan sudah memiliki stigma negatif ke saya.

But who knows.

Daripada menghabiskan waktu dan tenaga…


Dalam sebuah hubungan kita selalu memiliki ekspektasi tertentu pada orang lain. Ekspektasi pada pasangan, tetangga, rekan kerja, atasan, maupun anak buah.

Namun, kenyataannya, tidak semua ekspektasi itu terpenuhi dengan baik.

Kita mengharap orang lain melakukan ini dan itu karena menurut kita, itu yang harusnya mereka lakukan. Tetapi, karena sesuatu hal, mereka tidak melakukan seperti yang kita harapkan.

Entah karena tidak mau, tidak bisa, tidak tahu dan banyak lagi.

Malah nggak jarang, semakin disuruh, semakin nggak dilakukan. Endingnya, kita sendiri yang stres.

Pernah mengalami seperti ini?

Jika kamu pernah ‘terjebak’ dalam situasi seperti ini, kamu perlu ingat satu hal, bahwa kamu…


“Anaknya usia berapa Pak?" Tanya seorang kawan saat melihat foto anak saya terpampang di sisi laptop.

“Oh, 6 tahun Bu," jawab saya, santai.

“Wah udah waktunya punya adik tuh Pak. Kasihan lho kalau sendirian nggak ada temennya," lanjutnya menggebu-gebu.

Saya cuma senyumin aja sambil balik melanjutkan beberapa pekerjaan yang masih mangkrak.

Pertanyaan ini adalah satu dari sekian pertanyaan kehidupan yang mau nggak mau akan kita terima. Mulai dulu jaman kuliah ditanyain kapan lulus dilanjutkan dengan kapan kerja, cuss nggak lama berselang berubah jadi kapan nikah dan seterusnya.

Kebetulan saya sekarang ada di fase pertanyaan kapan nambah anak, jadi ya saya…


Image for post
Image for post

Semua orang ingin didengar, dipahami, dan dimengerti. Namun sayangnya kenyataan seringkali tak sejalan dengan harapan.

Hari ini, aku seolah sedang diingatkan kembali tentang alasan-alasan orang tidak memahamiku seperti yang aku mau.

Ceritanya, sore ini Mbak Dina, rekan kerjaku yang super duper sensasional dan heboh itu memintaku untuk tukar tugas dengannya. Kebetulan posisi kami dan tugas kami sama, hanya berbeda area tanggung jawab saja.

Tanpa tedeng aling-aling, Mbak Dina yang lebih senior dariku itu secara sepihak mengganti tugas yang harusnya dia kerjakan, sedangkan dia mengerjakan tugasku. Ya bisa dibilang tukar tugas lah.

Walaupun hati sebel dengan kesemena-menaan itu, tapi kebetulan saya…


In short, jangan stalking akun Instagram orang-orang yang showing off desain journal super keren mereka.

Seriously.

Itu yang saya alami ketika memulai bullet journalling. Alih-alih membantu saya meningkatkan produktivitas atau pun membuat hidup saya lebih tertata, yang ada malah bolak-balik-bolak ganti buku/jurnal, desain konten, dan hal-hal non esensial lainnya dari bullet journal.

Mulai coba-coba menggunakan buku kotak (biar gampang bikin layout-nya) sampai pakai dotted seperti para bujoist pada umumnya. Nothing works as they said.

Pertanyaannya, apa yang salah?

Kemudian, saya mencoba untuk taking few steps back, belajar memahami apa sih bullet journal melalui si foundernya, Ryder Carroll di situs resminya.


Semua berubah kecuali perubahan itu sendiri. Sebuah kearifan yang mungkin sudah tak asing kita dengar tentang perubahan.

Farewell
Farewell
Mantas Hesthaven on Unsplash

Hidup itu dinamis. Kalau statis ya bukan hidup namanya bukan?

Membahas tentang perubahan, bagaimana kabar kalian dengan perubahan drastis dan mendadak akibat Covid-19? Semoga kita semua mampu menjalani perubahan-perubahan ini dengan baik ya.

Tidak semua perubahan itu nyaman dijalani, tapi mengingat opsi yang tersisa sudah tak banyak lagi, jadi ya sudah...jalani saja sepenuh hati.

Resolusi Awal Tahun

Nggak terasa ya, tahun ini sudah tinggal 4 bulan lagi. Apa kabarnya nih resolusi kalian tahun ini?

Tetep lanjut, lanjut dengan penyesuaian, atau...terpaksa batal?

Salah satu rencana saya tahun…


Ceritanya, blog saya Minimalist Web baru saja saya utak-atik template-nya.

Dari yang menggunakan template premium dengan format 1 kolom, tanpa ruas sisi, menjadi 2 kolom dengan ruas sisi kanan. Setelah memilah-milih template yang sesuai dengan apa yang saya mau, saya kustomisasilah template itu biar pas sama tema blog-nya.

Nah, lalu penyakit lama saya kambuh. Nggak lama setelah ngluthekin template yang makan waktu lumayan itu, rasanya nggak puas dan pengen cari template lain. Dan singkat cerita, saya install template baru, yang tampaknya kece itu. Seketika itu pula, blog saya menjadi nggak karu-karuan penampakannya.

Bisa sih dikustomisasi, tapi ya ngganti ini dan…


Sebagai manusia, kita memilki dua sifat alamiah, mencari kesenangan dan menjauhi penderitaan.

Sayangnya, untuk mencapai apa yang kita targetkan atau impikan, tidak jarang kita dipaksa untuk menempuh medan yang amat sulit. Hampir mustahil rasanya melalui jalan terjal tersebut.

Setidaknya, untuk ukuran diri kita hari ini.

Namun, yang jadi dilema adalah, jalan terjal itu, seringkali menjadi satu-satunya jalan yang dapat dilalui. Terlepas apakah kita menyukainya atau nyaman menjalaninya.

Pilihannya kembali ke masing-masing kita. Mau terus atau berhenti.

Apapun itu, agaknya bijak bila kita mempertimbangkan dua hal sebelum memutuskan:

  • Apa untungnya?
  • Apa ruginya?

Pemenang bukanlah orang yang tidak pernah berhenti, tapi mereka yang cukup bijak melihat dan memutuskan kapan harus berhenti.

Prima

Moslem | Minimalist | Writer

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store